senandikapertama

 Menghayati kehilangan

Sesungguhnya tadi aku ingin menulis tentang seorang bruder baik hati yang pernah ku kenal, sangat baik hingga pertemuan itu benar-benar menyentuh hatiku. Tetapi dalam proses menulis, aku menemui tantangan yang membuatku berhenti dan menundanya. Aku selalui menemukan kesulitan untuk menemukan kata pertama untuk memulai perjalanan menulis itu. Menuliskannya juga sudah memberiku rasa takut yang amat sangat. Takut menerima kenyataan bahwa orang yang sangat baik di dunia ini, sudah meninggalkan dunia untuk selamanya. Kau tidak lagi dapat melihat senyumannya, tak ada lagi waktu untuk bersenda gurau dan mendengarkan petuah kehidupan. Punya teman dan sahabat yang sangat bijaksana, rendah hati dan menyenangkan, adalah hal yang sangat berharga bagiku. Sehingga kehilangannya benar-benar sulit diterima, sangat sulit.

  
Senja di Lumbanbulbul Balige

 

Sesungguhnya, tahun kemarin aku kehilangan bapak juga. Bapak yang sangat kukasihi dan mengasihiku, satu-satunya kebanggaanku bahwa aku punya bapak yang mendoakan dan mendukungku. Mengingatnya membuatku menangis lagi. Penyesalan seperti menghukumku berulang kali, menyesal karena tak sempat merayakan banyak hari dengannya, membuatku ingin memutar waktu kembali. Tanpa sadar aku masuk ke fase depresi, harusnya aku tidak mendiagnosa begitu. Tapi aku kehilangan alasan untuk bahagia, aku enggan beranjak dari tempat tidur, melarutkan diri dalam media sosial, menemukan kebahagiaan untuk mengisi kekosongan. Aku tak pernah memberitahu siapapun tentang ini. Tapi jika kemudian kau singgah dalam blogku, hari ini kau akhirnya tahu.

Semakin aku mencari kebahagiaan dalam media sosial, semakin aku kosong dan hampa. Aku mulai belanja dengan impulsive, mengira bahwa jika aku berpenampilan menarik perasaanku akan jauh lebih baik. Paket selalu datang setiap minggu, teman-teman di kantor juga heran. Sedang aku berdalih, bahwa apa yang kubelikan hanya kebutuhan. Padahal melihat barang yang sudah dibeli tak memberikan efek bahagia yang cukup lama. Hanya sekitar lima menit, lalu kembali stress karena barang-barang semakin banyak. 

Aku semakin sering menunda pekerjaanku, aku kira aku masih punya banyak waktu. Hingga kemudian aku kewalahan karena pekerjaan yang tidak masuk dalam tugas harian datang secara tiba-tiba dan cukup banyak. Seminggu setelah bapak pergi, aku dijejali dengan banyak tanggung jawab yang mendesak harus diselesaikan. Sehingga aku lupa bahwa hatiku sedang berdarah. Namun tetap saja, aku masih kehilangan alasan untuk bangun pagi, alasan untuk pergi ke kantor dan bekerja, dan merasa bahwa hidup sangat monoton dan aku bagai robot yang mengikuti rutinitas.

 

 "Aku kehilangan kendali atas diriku sendiri"

Apakah aku tidak punya teman untuk berbagi?

Ini fotoku bersama dengan bapak dan tante, ada juga kakak dan abang ipar serta keponakanku ketika aku menerima tahbisan sebagai Diakones.

 

Punya, bahkan aku memiliki pacar. Tapi itu tidak cukup menyembuhkan luka dan menggantikan posisi bapak dalam hidupku. Kakak-kakakku tidak tahu, betapa aku begitu terluka karena kepergian bapak, aku tidak menangis meraung-raung saat jasadnya dibaringkan di ruang tamu kami. Tapi aku benar-benar ingin bangun dan mengira bahwa semuanya hanya mimpi. Satu-satunya orang yang percaya bahwa aku akan sukses adalah bapak, satu-satunya orang yang mendorongku memaafkan diriku adalah bapak. Aku bahkan membuat fotonya dirumahku, karena aku sangat bahagia memilikinya setelah bapak kandungku meninggal ketika aku berusia 8 tahun. Aku seperti bangunan yang tak berpondasi, dulu aku tidak menyadari bahwa aku dapat berdiri dengan tegak karena ada pondasi.

Aku sibuk pergi melakukan pekerjaanku, tanpa menanyakan kabarnya karena perasaan yang kikuk. Kini aku menyadarinya, bahwa ia tidak lagi ada di sana. Tidak lagi ada yang menelpon ketika aku akan pulang, tidak lagi ada yang memberi sarapan di pagi hari.

 

Aku merindukannya, sungguh. Aku merindukan bapak.

Tentang masbrud yang pergi juga sama. Aku melihat sosok bapak di dalam dirinya, dia menerimaku bagaikan bapak menyambut anak. Aku lalu mengerti bagaimana Allah selalu menyambut dan memeliharaku melalui orang-orang seperti bapak, mas brud, juga pak Tihar. 

Ini fotoku dengan mas bruder. Ia sedang menjelaskan kepada kami pembuatan keramik.

 

Aku belum mau dihibur, rasanya masih terlalu dini ditinggalkan orang-orang seperti Bapak. Aku membutuhkan bapak, orang yang tidak akan pergi jika aku melakukan kesalahan, ia akan mendukungku dan memberi aku semangat.

Pada situasi ini aku mengerti, bahwa aku harus terus bergerak, sebab jika aku berhenti aku hanya akan menenggelamkan diriku. Kepergian mereka memang menyakitkan, tapi aku harus tetap hidup, sebab Allah akan selalu ada menjadi bapak dalam diri orang-orang lain yang akan kutemui. Begitulah aku menguatkan langkah untuk tetap berjalan dan mengingat tiap pesan bapak dan semua kebaikannya dalam hidupku.

Untuk memaknai kehilangan, aku tak perlu terburu-buru. Aku tak perlu dihibur sebab aku tidak mungkin akan bahagia jika bapak pergi, tapi aku akan menemukan alasan lain untuk bahagia dan menghargai kehadirannya dalam hidupku. Tapi aku tak akan terburu-buru.

Jika engkau mengalami hal yang sama denganku, ditinggalkan orang yang sangat engkau kasihi. Engkau tidak sendiri, aku juga ikut merasakannya. Tapi mulailah langkah pertamamu, cobalah percaya bahwa sebagaimana orang yang kau kasihi mencintaimu, begitupun sang Pencipta. Kadangkala persoalan paling berat adalah ketika kita ingin memulai. Sama seperti ketika aku ingin memulai tulisan tentang Mas bruder, aku sulit untuk memulainya. Mungkin itu juga berlaku dalam proses penerimaan kehilangan, kita harus menguatkan diri untuk memulainya.

Prosesnya adalah dengan menyadari lebih dulu, menyadari bahwa ada hati yang berdarah karena kehilangan. Lalu menghayati rasa sakitnya untuk kemudian menerimanya. Tapi tak perlu terburu-buru semua butuh proses dan Allah ada dalam proses kedukaan kita.

Dia akan selalu memenuhi hati kita dengan kasih dan kebahagiaan.

Semoga Tuhan menguatkan kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diamnya Pena, Suara Diri"

Punya Anjing, Kenali Bahaya Rabies