Pencinta atau Penikmat?

Foto : Opung Cassandra pejuang tanah adat di Sigapiton

Baru-baru ini aku pindah tempat tinggal ke kontrakan yang baru saja aku lunasi pembayarannya. Aku duduk di depan pintu menunggu mobil pickup yang membawa barang-barangku datang. Tak lama mobil itu tiba, satu persatu barang-barang diturunkan, aku dibantu oleh dua orang remaja laki-laki untuk merapikan barang-barang itu. Setelah semua tersusun dengan rapi, aku memandangi seisi rumah, dan menyadari sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatianku. Sebagai perempuan yang berusia 27 tahun dan hidup seorang diri di sebuah kontrakan, aku sudah memiliki tempat tidur, kompor gas, kuali, termos, ember, meja, lemari, dan lain-lain. Aku juga memiliki 10 pasang sepatu, banyak pakaian, dan membuang sampah setiap hari. Setiap tiga minggu sekali aku juga harus mencuci pakaian, menyetrikanya.Tentu membutuhkan banyak air dan menghabiskan listrik, selain itu listrik juga dibutuhkan untuk mengisi daya batrei gawai atau laptop serta humidifier yang sering aku gunakan ketika aku membaca. Fakta itu membuat aku menyadari betapa banyak sumber energi yang habis oleh satu orang manusia. Itu masih satu, dilansir dari detik.com jumlah manusia di dunia hingga 2021 diperkirakan mencapai 7.854.965.732 jiwa.

Bisa kita bayangkan, berapa banyak sumber daya alam yang dihabiskan dan berapa banyak sampah yang dibuang oleh manusia dan efeknya bagi bumi. Hal itu membuatku mengerti mengenai pilihan-pilihan pasangan yang menikah namun tidak memiliki anak. Semakin banyak manusia maka semakin banyak sumber daya alam yang habis, persoalannya apakah sumber daya yang diperlukan oleh manusia itu akan selalu disediakan oleh bumi tanpa menimbulkan kerusakan? Faktanya, tidak! Mei lalu, kecamatan Parapat dilanda banjir bandang, padahal jika kita berjalan melewati jalan lintas Parapat kita masih bisa melihat pepohonan. Hal itu memunculkan pertanyaan mengapa bisa terjadi banjir jjika pepohonan masih ada. Tapi jika kita pergi lebih jauh, ternyata banyak pohon yang sudah ditebang dan sudah terjadi longsor di berbagai daerah. Siapa yang menebang tentulah manusia atau pihak tertentu yang memiliki kepentingan.

Foto : Tribun Medan 

Dilansir dari media BBC https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-57346840, sepanjang tahun lalu, JATAM mencatat terjadi 45 konflik tambang yang mengakibatkan 69 orang dikriminalisasi dan lebih dari 700.000 hektare lahan rusak. Jika kita menelusuri lebih banyak lagi, kita akan melihat banyaknya terjadi kerusakan alam oleh karena pemenuhan kebutuhan manusia. Lucunya, kita sering menyebut diri sebagai pencinta alam, tanpa benar-benar mengerti atau punya hubungan yang dekat dengan alam. Atau, kita terlalu berani menyebut diri sebagai pencinta tanpa mengerti arti mencinta? Eakkkkk

Foto : Kompasiana

Aku sendiri mengerti makna pencinta alam setelah melihat film Sokola Rimba dan membaca buku Sokola Rimba yang ditulis oleh Butet Manurung. Melalui film dan buku itu, aku melihat bagaimana suku Anak Dalam di Jambi menjaga dan memperlakukan alam sebagai patner, sebagai sahabat, keluarga atau kekasih mereka. Hubungan mereka yang sangat intim, seolah-olah mereka memiliki bahasa yang sama yang dimengerti baik oleh alam dan juga oleh suku Anak Dalam itu sendiri. Mereka punya aturan untuk menebang pohon, punya aturan untuk berburu, atau menggunakan air di sungai. Mereka benar-benar menghormati alam, mencintai dan merawat lingkungan hidup, binatang dan semua hal yang ada di alam. Jadi, melihat bagaimana intimnya hubungan Anak Suku Dalam dengan lingkungan hidup mereka, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa aku bukan pencinta melainkan hanya penikmat. 


Aku belum bisa melakukan apa yang dilakukan oleh masyarakat Suku Anak Dalam, yang merawat alam mereka. Aku hanya penikmat, yang pergi ke alam ketika aku penat, aku juga tidak menanam pohon ketika hutan mulai gundul. Hal yang paling mudah yang bisa ku lakukan hanya membuang sampah pada tempatnya. Aku juga belum seperti masyarakat Sigapiton, atau masyarakat di Dairi yang berjuang untuk tanah dan lingkungan mereka, yang terancam rusak oleh aktivitas tambang. Tapi sebagai penerima manfaat dari alam dan makhluk hidup yang paling banyak menghabiskan sumber daya alam, tidakkah seharusnya kita punya tanggungjawab moral untuk menjaga dan merawat lingkungan hidup?

Barangkali sebelum menyebut diri sebagai pecinta alam, kita perlu berkenalan dan punya hubungan yang lebih dekat dengan alam dan belajar untuk merawatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diamnya Pena, Suara Diri"

Punya Anjing, Kenali Bahaya Rabies