Belajar Pamit
Aku ingat benar bagaimana seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam rumah kami tanpa permisi. Aku berusaha mencoba menanyakan apa yang ia cari, namun ia tidak menjawab dan hanya sibuk bertelepon. Aku memilih menunggu dengan sabar, hingga perempuan itu menyelesaikan percakapannya. Tak lama, akhirnya ia minta maaf karena telah masuk tanpa pemisi.
“Maaf, dik, di luar sangat berisik, itu mengapa saya masuk ke rumahmu dan menjawab telepon ini. Terima kasih sudah memberi tempat untuk menelpon dengan nyaman” Ucapnya kepadaku
Tentu, aku tidak marah, karena awalnya aku hanya kuatir saja kalau-kalau dia berniat jahat di dalam rumah kami. Namun, mendengar penjelasannya saya tidak marah, malah membiarkannya pergi meninggalkan rumah kami.
Sejak peristiwa itu, aku mengerti bahwa untuk masuk ke rumah orang lain kita harus permisi kepada pemilik rumah. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana kita masuk ke rumah orang lain, tanpa meminta ijin kepada sipemilik rumah. Si tuan rumah juga perlu mempersiapkan untuk menjamu tamu yang datang, menerangkan aturan yang berlaku di rumahnya, tujuannya agar tamu menjadi nyaman dan merasa aman. Selain itu, antara si tuan rumah akan memiliki toleransi hal-hal yang tidak sesuai aturannya.
Lalu bagaimana jika kita ingin meninggalkan tempat itu?
Meninggalkan tempat yang pernah menyambut kita dengan ramah dan memberi kita kenyamanan, tentu saja kita harus permisi kepada tuan rumah. Meninggalkan rumah yang bukan miliki kita adalah hak kita dan tanggung jawab kita adalah pemisi kepada si pemilik rumah. Tujuannya agar pemilik rumah tahu, bahwa kita tidak lagi berada di rumahnya dan agar pemilik rumah tahu bagaimana menyambut kepergiaan kita.
Rumah yang ku maksud kali ini jangan kau maksudkan secara harafiah. Rumah kali ini adalah ruang dalam relasi pertemananmu, atau hubungan romantismu. Baiknya jika kau datang dan berani menyatakan tujuanmu, begitupun jika kau ingin pergi sampaikan saja niatanmu.
Pergi tanpa permisi akan memunculkan kebingingan dan berbagai pikiran-pikiran yang jarang sekali positif. Itu juga bisa memunculkan rasa bersalah dan rasa sakit. Jika kau disambut sebagai manusia, tidakkah layak jika kau pergi sebagai manusia juga.
Bagaimana pamit?
Pamit sebenarnya sesimple kamu mengucapkan terima kasih atas keramahan yang kau terima, dan sampaikan doa untuk tuan rumah yang kau tinggalkan. Jika kau pergi untuk datang lagi, sampaikan juga itu, atau jika kau tak akan datang lagi ke rumah itu, sampaikan juga.
Barangkali akan ada perayaan untuk perpisahan, karena perpisahan tidak harus penuh dengan kesedihan tapi dengan perayaan yang semarak dengan kegembiraan.
Jingarnai... Mantap bah kak
BalasHapus